Pages - Menu

Minggu, April 07, 2013

Tentang Rindu

Keramahan musim dingin sudah dua minggu berlalu. Kenyaman dan keindahan butir kembang salju terkadang dirindukan. Kadang pula tidak. Pohon-pohon akasia yang sudah tiga bulan tak berdaun mulai memperlihatkan kemegahan pucuk-pucuk baru. Matahari tak lagi terbenam pukul 4.30 sore, namun beranjak malu menjadi pukul 8 malam. Seperti mempengaruhi malam. Tak terasa sama sekali indahnya.

pam parampam

Enam bulan berada di dunia yang berbeda. Namun kerinduan dunia lalu sama sekali tak luput dalam benak. Semenjak hari pertama terbang jauh. Tak satupun aku lupa setiap momen bersama orang tercinta. Terkadang rasa rindu menyiksa batin. Meninggalkan atau ditinggalkan. Rasanya sama saja. Rindunya sama saja.

Perlahan diri terasa terbohongi atau membohongi. Ingin rasanya kembali lagi. Namun harus ku tahan sampai keadaan memihak lagi. Senyum dunia lama terkadang menghantui. Kala tidur ku tak ingin terbangun. Mimpi-mimpi jadi saksi. Tiap mimpi sepertinya sama saja. Pertemuan dua rasa yang nyata. Aku ingin hidup di dua dunia.

Seandainya dunia paralel itu ada. Mungkin satu bagian diriku masih bahagia bersama mereka. Menciptakan momen-momen indah yang lain. Di dunia yang berbeda. Aku merasa terbebani. Dunia baru belum bisa aku terima. Seringai gurau cerita lama. Tak pelak menyiksa diri. Aku berdusta pada langit. Namun mereka pikir aku bahagia di sini. Tidak sama sekali. Aku rindu kamu dan mereka. Dunia paralel cuma bikisan tak nyata.

Aku hanya lari. Ingin rasanya tinggalkan sedikit pesan. Menyapa kamu dalam senda gurau. Berbagi cinta. Berbagi rasa. Tak sama sekali ada. Ini bukan tentang lemahnya aku. Bukan juga tentang cerita pahit di dunia ku. Ini tentang rindu. Rindu yang menyiksa. Namun lidah tak sedikit pun berani berkata. Aku hanya menunggu. Ini bukan untuk dimengerti. Hanya sebagian yang bisa memahami. Mungkin dia atau kamu. Mungkin juga mereka. Mungkin tidak sama sekali. 

astrakhan '13

2 komentar:

  1. nice,,terkadang rasa rindu itu memang sangat menyiksa,,
    namun di saat jarak yang terbentang tak satupun helai rindu dapat tersampaikan, membelenggu hati yang pilu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih tanggapan dan kunjungannya mbak ade :))

      Hapus