Malam ternyata bukan sebuah keindahan di antara lampu-lampu yang menerangi jalanan. Melainkan rasa lapar yang tertunda karena sesuap nasi pun belum sempat ditelan oleh ibu tua yang ku temui di selasar itu. Aku melihat kesedihan kecil yang menyatu dengan dinginnya malam. Aku melihat mata yang mulai memerah dan kesunyian yang menyertai di balik sosok yang renta itu. Melihat tetes air yang jatuh perlahan serta ucapan yang takkan mampu kudengar lagi karena lengannya udah rapuh untuk meminta.
Apa yang aku lihat ini ? sebuah keseimbangan kehidupan atau korban dari kesempurnaan yang di cari oleh orang-orang besar. Aku seakan tak sadarkan diri dan mulai mengacuhkan semuanya. Mulai merasakan hati yang terkikis karena aku belum bisa memahami dengan jelas apa yang ia rasakan. Aku membayangkan jadi bagian dari mereka namun aku adalah bagian dari proses kehidupan yang ditakdirkan Tuhan. Keberuntungan menjadi orang yang masih bisa bernapas di saat malam yang dingin menyegat tubuh.
