Pencuri itu kelam sekali warna kulitnya. Raut wajahnya berbinar
agak seram. Badannya seperti tak terurus. Ceking berpakaian lusuh,
warna putih bajunya telah menguning atau menyoklat. Aku tak yakin sama sekali. Tak kukenali sama sekali wajah itu atau orang berpenampilan seperti itu. Ia berlari kencang
di tengah pasar. Semakin berlari
semakin dia menuju bagian pasar paling belakang. Bagian terbau. Bagian di mana
berbagai jenis ikan dan daging adu penampilan. Di sudut-sudut, tempat pemotongan
tegak berdirikan tenda bambu. Dibuat khusus bagi algojo sembelih dan juru bedah
meraja.
Para
pedagang geram mengejarnya
tak henti, sebagian masih bersarung habis sembahyang zhuhur. Tak lupa membawa
senjata sakti ampuh mandraguna, balok kayu
pohon Sungkai. Preman pasar pun sampai hati meninggalkan meja
judi. Ambil bagian operasi penangkapan. Ikutan main hakim sendiri. Mereka
berteriak sambil mengangkang. Tak sudi daerah kekuasaannya dibuat onar, preman
pasar berlarian memburu mangsa. Permainan
judi kartu berakhir. Pertunjukan sirkus
pun
di mulai.
Dia
berlari saja, namun mulai ke arah yang salah. Aku yakin
pelariannya akan bermuara ke jurang
belakang pasar. Tak curam
memang, tapi itu tempat yang terzhalimi. Tempat juru bedah ikan tongkol membuang isi perut. Terlalu
busuk sampai-sampai petugas kebersihan kampung tak sudi mendekati daerah tak
terurus itu.




