Pages - Menu

Kamis, Oktober 10, 2013

Cerpen : Pencuri

Pencuri itu kelam sekali warna kulitnya. Raut wajahnya berbinar agak seram. Badannya seperti tak terurus. Ceking berpakaian lusuh, warna putih bajunya telah menguning atau menyoklat. Aku tak yakin sama sekali. Tak kukenali sama sekali wajah itu atau orang berpenampilan seperti itu. Ia berlari kencang di tengah pasar. Semakin berlari semakin dia menuju bagian pasar paling belakang. Bagian terbau. Bagian di mana berbagai jenis ikan dan daging adu penampilan. Di sudut-sudut, tempat pemotongan tegak berdirikan tenda bambu. Dibuat khusus bagi algojo sembelih dan juru bedah meraja.

Para pedagang geram mengejarnya tak henti, sebagian masih bersarung habis sembahyang zhuhur. Tak lupa membawa senjata sakti ampuh mandraguna, balok kayu pohon Sungkai. Preman pasar pun sampai hati meninggalkan meja judi. Ambil bagian operasi penangkapan. Ikutan main hakim sendiri. Mereka berteriak sambil mengangkang. Tak sudi daerah kekuasaannya dibuat onar, preman pasar berlarian memburu mangsa. Permainan judi kartu berakhir. Pertunjukan sirkus pun di mulai. 

Dia berlari saja, namun mulai ke arah yang salah. Aku yakin pelariannya akan bermuara ke jurang belakang pasar. Tak curam memang, tapi itu tempat yang terzhalimi.  Tempat juru bedah ikan tongkol membuang isi perut. Terlalu busuk sampai-sampai petugas kebersihan kampung tak sudi mendekati daerah tak terurus itu.

Masjid Biru Astrakhan

Masjid Biru Astrakhan adalah salah satu masjid megah yang terletak di selatan Rusia. Masjid ini terletak di pusat kota Astrakhan, sekitar 5 km dari kampus Astrakhan State Technological University. Masjid yang dibagun oleh bangsa Tatar sejak abad 18 ini memiliki kubah besar dan bergaya arsitektur arab modern. Bentuk masjidnya yang elegan memiliki daya tarik tersendiri bagi para jemaah dan pengunjung masjid.

Masjid Biru ini terletak di tengah-tengah perumahan Muslim. Setiap waktu sholat, banyak dari masyarakat sekitar yang berdatangan menunaikan sholat berjemaah di masjid ini. Suatu pemandangan yang jarang terlihat di daerah-daerah lain di Rusia. Di sekitaran mesjid juga terdapat sekolah untuk belajar agama Islam. Hal ini membuat perkembangan Islam di selatan Rusia khususnya Astrakhan menjadi lebih cepat. Suatu hal yang harus kita syukuri sebagai umat Muslim.


 Masjid Biru Astrakhan


Rabu, Oktober 09, 2013

9.10.2013

Udah lama gak ngepost di blog, sekarang gue lagi sibuk-sibuknya berkutit dengan kehidupan kuliah yang baru. Dengan berakhirnya kelas bahasa kemarin, sekarang gue udah sekelas dengan orang rusia asli dan mesti belajar full bahasa Rusia. 

Minggu-minggu pertama tahun pertama emang susahnya gak bisa dibayangi. Gue merasa jadi bego sendiri di kelas, gak ngerti apa-apa dosen jelasin pelajaran. Tapi, ini lah proses yang paling penuh tantangan haha

Oh ya, pasukan di Astrakhan sekarang udah bertambah dengan kedatangan lima mahasiswa baru yang akan belajar di kelas Bahasa. Ada mas Albert, mbak Farah, mbak Ina, sama mbak Dinda yang bakal ngambil S2 Ilmu Politik, dan Angel yang ngambil S1 Geologi.


 pasukan Astrakhan


pasukan Astrakhan

Senin, Juli 22, 2013

Tulisan : Ketika Penulis Kehilangan Kata-Kata

Tulisan ini berawal dari kebingungan. Bukan kebingungan akan problema tentang hidup atau pun tentang rasa. Lebih tepatnya sih rasa disandingkan dengan kata kegalauan bukan kebingungan. Alaahh, bukan itu tujuan sebenarnya aku menulis ini.

Ini tentang susahnya aku menulis sebuah tulisan, mungkin  sebenarnya tentang sulitnya aku mengembang sebuah ide cerita dalam otak kanan maupun kiri menjadi sebuah tulisan. Hal ini sih lebih kerennya disebut writer’s block, keadaan di mana seorang penulis kebingungan membuat sebuah tulisan. Semua penulis pasti mengalaminya, dari penulis profesional sampai penulis pemula seperti aku. Itu sih kata-kata para penulis yang aku tangkap.
 
Masalahnya adalah hal ini benar-benar sudah menyugesti ku dalam beberapa minggu terakhir, bahkan beberapa bulan terakhir. Efeknya terasa, dimana aku menjadi kurang produktif menulis beberapa waktu belakang.

Jumat, Juli 19, 2013

Diam, Sebuah Destinasi Terakhir Kah ?

Diam, bentuk dari penyebab merancu. Membawa segudang tanya dalam mata. Warna indah yang penuh hipotesa aneh. Pancaran kebingungan diri. Tiada satu yang mengerti. Bahkan bukan seolah-olah membualkan kebohongan. Kita dalam pikiran kita. Mengundang secarik tanda. Bahkan diksinya terlalu berat untuk dipahami. Aura kebebasan dalam kesunyian.

"Kau pendiam paling hebat. Bukan tak berasalan, tapi kadang alasannya tak bermuasal. Cuma bermuarakan akibat. Penyebab adalah rahasia paling dalam. Diungkap ? Aku rasa tidak. Tapi ,itulah indahnya kamu. Diam, cara terindah. Penganugerahan Tuhan yang diberi. Diam, sebuah destinasi terakhir kah ?"

"Aku bukan orang yang tahan akan kediaman. Pengalahan diri, membuat alur baru. Mengais lalu membuka satu demi satu lara yang kau pendam. Paling tidak aku merangkai diksi. Permainan kata adalah kebisaanku."

Rabu, Juni 05, 2013

Я так люблю тебя, а ты?


Sebulan yang lalu di Fakultas Persiapan ASTU diadakan Olimpiade Bahasa Rusia untuk mahasiswa asing. Di sini kami diminta membuat cerita pendek dengan tema CINTA.  Nah, aku pun gak ketinggalan mengikuti perlombaan tersebut, walau pada awalnya diragukan ama dekan fakultas dan sempat diusir keluar karena dianggap gak layak ikut :(( tapi dengan tekat besar, akhirnya saya mendapatkan juara 2 dalam perlombaan tersebut. Emang gak disangka, karena diantara para peserta banyak yang kelihatannya lebih hebat dan jago bahasa Rusia nya. Tapi, apa dayanya, aku dengan tekat untuk menunjukan kebisaan (hheehe..) akhirnya mempersembahkan hasil yang lumayan membanggakan hehehe 
 
 Херру Анггиантама 

  

Hujan di Awal Bulan Juni

Apa yang kita lihat sekarang bukan lah seperti ilusi lagi. Kecemburuan akan masa lalu yang cukup indah sepertinya sudah mulai mengikis angan. Kita yang terlalu tangguh malah berpura-pura menjadi pembisu. Aku bukan lah tak berarah lagi. Semua telah berbeda ketika ku coba menghitung peta langit. Bulan yang dulunya sama-sama kita lihat mulai kau acuhkan. Aku terlalu lelah untuk melihat ke belakang.

param pam pam